SEMARANG, Jatengmaju.com – Di balik sejuknya udara perbukitan Candi Baru, Kota Semarang, tersembunyi sebuah situs sejarah sunyi yang menyimpan ribuan kisah kemanusiaan dan memori masa lalu. Dikenal secara administratif sebagai Ereveld Candi, kompleks makam kehormatan ini tidak hanya menarik perhatian karena lanskapnya yang rapi dan asri, tetapi juga karena monumen salib putih menjulang yang menjadi titik fokus kawasan tersebut. Situs ini merekam babak penting sejarah yang membentuk identitas Kota Semarang hingga hari ini.
Ereveld Candi didirikan pada Maret 1947 atas prakarsa kontingen pertama pasukan Belanda yang tiba di Semarang. Awalnya dinamai Lapangan Kehormatan Tillemaplein, namanya resmi diganti menjadi Candi pada tahun 1967 atas permintaan pemerintah Indonesia agar menyatu dengan identitas lokal. Pada dekade 1960-an, jenazah korban perang dari Palembang dan Makassar dipindahkan ke sini. Menariknya, tidak ada makam perempuan di Ereveld Candi karena pemakaman ini dirancang khusus bagi militer laki-laki dewasa yang gugur selama Perang Dunia II dan masa konflik di Indonesia.
Daya tarik utama Ereveld Candi terletak pada tata letaknya yang simetris, rapi, dan jauh dari kesan angker. Memasuki kawasan ini, pengunjung disambut hamparan rumput hijau serta ribuan nisan putih yang berbaris presisi. Di pusat kompleks berdiri monumen salib putih besar dari kayu dan beton dengan inskripsi “Voor Veiligheid en Recht” (Untuk Keamanan dan Keadilan). Penanda visual ini sekaligus menjadi simbol universal perenungan nilai kemanusiaan.
Kini, Ereveld Candi bertransformasi menjadi situs warisan sejarah dan ruang edukasi publik yang mengingatkan masyarakat akan pentingnya merawat perdamaian. Di tengah modernisasi Kota Semarang, kompleks makam kehormatan ini tetap berdiri sebagai monumen bisu yang merawat memori kolektif masa lalu. Bagi pencinta wisata sejarah, perbukitan Candi menawarkan pengalaman reflektif yang membuktikan keanekaragaman arsip sejarah dan budaya di Jawa Tengah.




