PONTIANAK – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia dan menimbulkan dampak yang semakin luas. Selain memunculkan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat, bencana ini juga mengancam kesehatan manusia serta kelangsungan hidup satwa liar di habitatnya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir hingga Kamis (3/9/2026) pagi, kejadian karhutla masih terpantau di sejumlah provinsi. Wilayah terdampak meliputi Aceh, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, hingga Maluku Utara.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino. Ia meminta warga tidak membuka lahan dengan cara membakar dan lebih berhati-hati dalam mengelola sampah agar tidak memicu kebakaran baru.
Menurut BNPB, Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah dengan kondisi cukup serius. Sebanyak 46 titik api terdeteksi dengan luas area terbakar lebih dari 528 hektare. Sebagian besar area terdampak telah berhasil dipadamkan, namun kualitas udara masih berada pada kategori berbahaya dengan jarak pandang kurang dari satu kilometer.
Di Kalimantan Tengah ditemukan 72 titik api yang membakar sekitar 739 hektare lahan, sedangkan Kalimantan Selatan mencatat 31 titik api dengan luas kebakaran mencapai lebih dari 550 hektare. Sementara itu, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan juga masih menghadapi kebakaran dengan puluhan hingga ratusan hektare lahan terdampak.
Selain kerusakan lingkungan, karhutla turut berdampak pada sektor kesehatan. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 50 ribu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama Juli hingga Agustus 2026 di wilayah yang terdampak asap kebakaran.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa kasus ISPA tidak hanya terjadi di daerah yang memiliki titik api. Asap yang terbawa angin dapat memengaruhi wilayah lain sehingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan masyarakat.
Di Kota Padang, Sumatera Barat, misalnya, fasilitas kesehatan mencatat lonjakan pasien ISPA seiring menurunnya kualitas udara dalam beberapa pekan terakhir.
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan luas karhutla sepanjang Januari hingga Juli 2026 telah mencapai sekitar 202 ribu hektare. Angka tersebut diperkirakan masih bertambah karena perhitungan untuk periode Agustus masih berlangsung.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan bahwa kebakaran hutan menimbulkan dampak serius terhadap ekosistem. Banyak satwa yang kehilangan habitat, mengalami cedera, bahkan mati akibat terjebak kobaran api.
Dampak tersebut terlihat di Kalimantan Barat, di mana beberapa ular ditemukan dalam kondisi hangus terbakar. Sementara itu, sejumlah orangutan harus dievakuasi dari habitatnya karena kawasan hutan yang menjadi tempat hidup mereka terdampak kebakaran. Di Ketapang, enam orangutan dilaporkan masuk ke area perkebunan setelah habitatnya terganggu.
Kabut asap juga memengaruhi aktivitas transportasi udara. Di Bandara Supadio Pontianak, jarak pandang yang terbatas menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan. Penumpang mengeluhkan tebalnya asap yang menyelimuti wilayah tersebut.
Untuk menekan dampak karhutla, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut pemerintah menerapkan lima strategi utama. Langkah tersebut meliputi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pemadaman melalui water bombing, pengerahan satgas darat, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan, serta peningkatan kesadaran masyarakat.
Pemerintah menilai keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada upaya pemadaman, tetapi juga dukungan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membakar lahan, sampah, maupun membuang puntung rokok sembarangan.





