SEMARANG – Penutupan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 menjadi awal penguatan pembinaan Al-Qur’an di Jawa Tengah. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan, keberhasilan MTQ tidak hanya diukur dari raihan peringkat, melainkan dari keberlanjutan pembinaan para qari, hafiz, pelatih, hingga lembaga pendidikan Al-Qur’an.
Pernyataan itu disampaikan Taj Yasin yang juga menjabat Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jawa Tengah saat penutupan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Sabtu (19/9/2026).
“Pembinaan harus berjalan sepanjang waktu melalui kaderisasi peserta, peningkatan kompetensi pelatih dan dewan hakim, serta penguatan lembaga pendidikan Al-Qur’an,” ujarnya.
Jateng Finis di Posisi Kedua
Berdasarkan keputusan Dewan Hakim, Kalimantan Timur keluar sebagai juara umum dengan perolehan 288 poin. Jawa Tengah menempati posisi kedua dengan 208 poin, disusul DKI Jakarta yang mengumpulkan 129 poin.
Aceh dan Jawa Timur sama-sama meraih 99 poin, diikuti Sumatera Utara dan Jawa Barat dengan 71 poin, Sumatera Selatan 55 poin, Banten 52 poin, Riau 35 poin, Nusa Tenggara Barat 33 poin, serta Sulawesi Selatan 31 poin.
Jawa Tengah sendiri mengirimkan 67 anggota kafilah yang lolos melalui seleksi berjenjang dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi. Dari jumlah tersebut, 30 peserta berhasil menembus babak final.
Menurut Taj Yasin, capaian tersebut harus menjadi dorongan untuk memperkuat sistem pelatihan, bukan sekadar mengejar prestasi pada satu ajang MTQ.
Tali Asih bagi Penghafal Al-Qur’an
Sebagai bentuk dukungan terhadap pembinaan keagamaan, Pemprov Jawa Tengah terus menjalankan program tali asih bagi penghafal kitab suci. Untuk hafiz yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz, pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp1 juta.
Program itu tidak hanya diperuntukkan bagi warga Jawa Tengah, tetapi juga bagi mereka yang menghafal Al-Qur’an di wilayah provinsi tersebut.
Pada 2025, sebanyak 1.041 penghafal menerima tali asih. Sementara pada 2026, Pemprov mengalokasikan anggaran sebesar Rp2 miliar yang ditargetkan menjangkau sekitar 2.000 penerima.
“Hingga saat ini sudah lebih dari seribu orang yang menuntaskan hafalan Al-Qur’an di Jawa Tengah,” kata Taj Yasin.
Selain itu, pemerintah provinsi juga memperkuat pembinaan melalui program beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren serta dukungan terhadap sekitar 5.347 pondok pesantren di Jawa Tengah.
Perkuat Sinergi dan Integritas MTQ
Taj Yasin menilai pembinaan Al-Qur’an membutuhkan kerja sama yang erat antara LPTQ tingkat nasional, provinsi, hingga kabupaten/kota. Menurutnya, koordinasi diperlukan dalam penyusunan materi, sistem seleksi peserta, peningkatan kualitas pelatih, standar dewan hakim, hingga tata kelola penyelenggaraan MTQ.
“Perlu terus bersinergi dalam standarisasi pelatihan, seleksi peserta, penyusunan materi, sistem perhakiman, dan tata kelola MTQ,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga profesionalisme, transparansi, objektivitas, dan akuntabilitas, terutama dalam sistem penilaian. Setiap evaluasi yang muncul selama penyelenggaraan MTQ, lanjutnya, harus menjadi bahan perbaikan untuk pelaksanaan berikutnya.
Diikuti Ribuan Peserta dari Seluruh Indonesia
MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah diikuti 2.242 peserta dari 37 provinsi yang bertanding di 12 arena, mencakup 8 cabang lomba, 24 golongan, dan 48 kategori.
Selain perlombaan utama, rangkaian kegiatan juga diisi seminar internasional, muzakarah ilmiah, pameran mushaf dan manuskrip Al-Qur’an, serta eksibisi tilawah dan kitabah bagi penyandang disabilitas rungu.
Menutup penyelenggaraan MTQ, Taj Yasin berharap seluruh kafilah membawa pulang lebih dari sekadar hasil perlombaan, tetapi juga semangat persaudaraan dan komitmen untuk terus mengembangkan pembinaan Al-Qur’an di daerah masing-masing.
“Semoga kesibukan kita bersama Al-Qur’an dalam MTQ ini menjadi wasilah terkabulnya doa-doa kita bersama,” pungkasnya.





