Pemprov Jateng Luncurkan Program JTAB Petani Gajian, Petani Dapat Modal hingga Kepastian Pembeli

Sumber Gambar : Pemprov Jateng

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui PT Jawa Tengah Agro Berdikari (JTAB) mulai menjalankan program JTAB Petani Gajian sebagai upaya meningkatkan perlindungan terhadap petani. Program ini dirancang untuk memberikan kepastian pendapatan, membantu akses permodalan, sekaligus menjaga stabilitas hasil panen dan harga komoditas pertanian.

Direktur Utama PT JTAB, Totok Agus Siswanto, mengatakan hingga September 2026 sebanyak sekitar 80 petani telah bergabung dalam program tersebut dengan total lahan yang dikelola mencapai lebih dari 200 hektare.

Bacaan Lainnya

Peserta program berasal dari sejumlah kabupaten, seperti Sukoharjo, Sragen, Klaten, Kabupaten Semarang, serta beberapa daerah lain di Jawa Tengah. Program ini tidak hanya menyasar pemilik lahan, tetapi juga petani penggarap yang membudidayakan komoditas seperti padi, bawang merah, dan jagung.

“Petani memperoleh kepastian hasil panen, dukungan modal usaha, penghasilan setara UMK per hektare selama masa tanam, dan hasil panennya akan dibeli oleh JTAB,” ujar Totok usai bertemu Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Kantor Gubernur, Kamis (17/9/2026).

Skema Pendapatan Selama Masa Tanam

Dalam pelaksanaannya, JTAB menyediakan modal produksi sejak awal proses budidaya. Sebagai konsekuensinya, seluruh hasil panen dijual kepada perusahaan dengan harga yang mengacu pada ketentuan pemerintah.

Nilai penjualan tersebut kemudian digunakan untuk menutup biaya produksi dan pembayaran penghasilan yang telah diterima petani selama masa tanam. Apabila masih terdapat selisih keuntungan, dana tersebut akan dikembalikan kepada petani.

Untuk mendukung program ini, JTAB bekerja sama dengan PT BPR BKK dalam penyediaan pembiayaan, Jamkrida sebagai penjamin kredit, serta Jasindo untuk memberikan perlindungan melalui asuransi gagal panen.

Ke depan, perusahaan menargetkan sekitar seribu petani dapat bergabung dalam program tersebut.

“Harapannya, profesi petani menjadi lebih menarik bagi generasi muda karena sejak awal sudah ada kepastian harga dan pembeli hasil panen,” kata Totok.

Petani Rasakan Manfaat Program

Salah satu peserta program, Ruswanto, petani asal Kabupaten Sukoharjo, mengaku kini tidak lagi kesulitan mencari modal karena seluruh kebutuhan produksi telah didukung sejak tahap pengolahan lahan hingga panen.

Selain itu, ia juga tidak lagi khawatir mencari pembeli karena hasil panennya telah dipastikan terserap oleh JTAB.

“Program ini sangat membantu. Semoga jaringannya semakin luas sehingga semakin banyak petani yang bisa ikut,” ujarnya.

Gubernur Dorong Perluasan Program

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai konsep JTAB Petani Gajian layak diperluas karena mampu memberikan kepastian bagi petani, baik dari sisi pendapatan maupun pemasaran hasil panen.

Menurutnya, dengan luas lahan pertanian Jawa Tengah yang mencapai sekitar 1,5 juta hektare, semakin banyak petani yang dapat dilibatkan, maka perlindungan terhadap sektor pertanian juga akan semakin kuat.

Luthfi meminta JTAB berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan untuk memetakan daerah-daerah yang berpotensi mengikuti program tersebut.

“Kalau cakupannya bisa diperluas ke lebih banyak kabupaten, petani akan memiliki kepastian usaha dan perlindungan yang lebih baik,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *