SEMARANG, Jatengmaju.com – Kawasan Kampung Melayu di Semarang Utara merupakan pemukiman tua yang menjadi saksi bisu kejayaan perdagangan pesisir Kota Semarang. Berdiri di jantung perkampungan bernuansa bahari ini, Masjid Bersejarah Kampung Melayu Semarang atau dikenal sebagai Masjid Layur menampilkan keanggungan arsitektur hasil perpaduan harmonis budaya Melayu, Arab, dan Jawa. Bangunan utamanya menggunakan atap tajuk bertingkat khas Jawa, dikelilingi ornaments kayu yang otentik dan tembok kokoh menahan laju zaman di pesisir.
Ikon paling mencolok dari kompleks masjid ini adalah menara jangkung bergaya Timur Tengah di bagian depan. Didirikan sejak abad ke-18 oleh Saudagar Yaman (Hadramaut), menara peninggalan masa kolonial ini dahulu tidak hanya difungsikan untuk memandangkan azan, tetapi juga sebagai menara pengawas lalu lintas kapal dagang di Kali Semarang. Keberadaan menara dan struktur bangunan unik ini menjadikan Kampung Melayu sebagai landmark sejarah yang sangat berharga.
Selain nilai arsitekturnya, masjid ini memelihara norma sosial yang diwariskan secara turun-temurun dari komunitas Saudagar Yaman dan etnis Melayu. Dahulu, kaum perempuan dianjurkan untuk beribadah di rumah guna menjaga kehormatan serta membatasi aktivitas di ruang publik sesuai pandangan ajaran agama dan adat konservatif kala itu. Seiring berjalannya waktu, pengurus masjid kini telah menyediakan tempat salat khusus yang terpisah bagi jamaah perempuan yang ingin beribadah. Kendati demikian, aturan adat tetap dipegang teguh secara konsisten, di mana perempuan tetap dilarang keras melangkah atau masuk ke dalam area salat utama laki-laki.
Di samping keunikan budayanya, tantangan fisik akibat banjir rob dan penurunan tanah menuntut penyesuaian bangunan secara bertahap. Demi menyelamatkan fisik bangunan dan menara bersejarahnya, warga dan pengurus masjid rutin meninggikan lantai serta merawat strukturnya tanpa merusak nilai keaslian cagar budaya. Ketangguhan masyarakat dalam merawat Masjid Bersejarah Kampung Melayu Semarang membuktikan bahwa pelestarian warisan sejarah Kota Semarang bertumpu pada ikatan gotong royong dan kepedulian komunitas lokal.





