Pemprov Jateng Perkuat Satgas dan Masyarakat Peduli Api untuk Antisipasi Karhutla Saat Musim Kemarau

Sumber Gambar : https://jatengprov.go.id/publik/cegah-karhutla-pemprov-jateng-bentuk-satgas-dan-perkuat-46-masyarakat-peduli-api/
Sumber Gambar : https://jatengprov.go.id/publik/cegah-karhutla-pemprov-jateng-bentuk-satgas-dan-perkuat-46-masyarakat-peduli-api/

TEMANGGUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meningkatkan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjelang puncak musim kemarau. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari memperkuat Satuan Tugas (Satgas) pengendalian karhutla hingga membina kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai garda terdepan di lapangan.

Salah satu kelompok yang aktif menjalankan kegiatan pencegahan adalah MPA Abdi Bumi di lereng Gunung Sumbing, Desa Batursari, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung. Para relawan secara rutin melakukan patroli, membuat sekat bakar untuk menghambat penyebaran api, serta memeriksa kondisi saluran air yang menjadi sumber kebutuhan masyarakat sekitar.

Bacaan Lainnya

Anggota MPA Abdi Bumi, David Yusuf Setiawan, menjelaskan bahwa patroli dilakukan secara berkala selama musim kemarau. Menurutnya, pembuatan sekat bakar menjadi salah satu metode efektif untuk meminimalkan risiko meluasnya kebakaran karena area yang telah dibersihkan dari semak lebih mudah dikendalikan apabila api muncul.

David mengungkapkan, kelompoknya mulai aktif setelah sering terjadi kebakaran hutan beberapa tahun lalu. Sejak memperoleh pelatihan dari Cabang Dinas Kehutanan Pemprov Jawa Tengah, para relawan dibekali pengetahuan serta perlengkapan pemadaman sehingga lebih siap menghadapi potensi kebakaran.

Ia menambahkan, dampak kebakaran hutan tidak hanya merusak kawasan vegetasi, tetapi juga mengancam keberlangsungan sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat. Proses pemulihan ekosistem pun membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan bisa mencapai empat hingga lima tahun hingga vegetasi kembali tumbuh normal. Selain itu, kebakaran juga berpengaruh terhadap menurunnya aktivitas wisata pendakian di Gunung Sumbing.

Selain patroli, para relawan juga memberikan edukasi kepada para pendaki agar tidak menyalakan api unggun sembarangan serta memastikan puntung rokok benar-benar padam sebelum dibuang demi mencegah munculnya titik api.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Heru Djatmika, mengatakan pemerintah provinsi terus memperkuat sistem pencegahan karhutla melalui pembentukan kelompok Masyarakat Peduli Api di berbagai daerah. Hingga saat ini, sebanyak 46 kelompok MPA telah terbentuk di sejumlah wilayah Jawa Tengah.

Selain itu, Pemprov Jateng juga telah membentuk Satuan Tugas Pengendalian dan Penanganan Karhutla berdasarkan keputusan gubernur. Satgas tersebut melibatkan berbagai instansi, seperti BPBD, DLHK, Dinas Kesehatan, serta perangkat daerah lainnya untuk memperkuat koordinasi penanganan apabila terjadi kebakaran.

Menurut Heru, keberadaan MPA menjadi elemen penting karena berperan sebagai ujung tombak di lapangan yang bekerja sama dengan Satgas dalam upaya pencegahan maupun penanggulangan kebakaran. Pemerintah juga terus meningkatkan kapasitas relawan melalui pelatihan, termasuk yang baru-baru ini dilaksanakan di Kabupaten Purworejo.

Ia menjelaskan, luas kawasan hutan di Jawa Tengah mencapai sekitar 1,38 juta hektare atau sekitar 42,56 persen dari total wilayah provinsi. Kawasan yang memiliki potensi tinggi mengalami karhutla umumnya berada di wilayah pegunungan dengan vegetasi yang mengering saat musim kemarau, serta daerah-daerah kering seperti Kabupaten Blora dan Rembang.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan, Pemprov Jawa Tengah juga telah menggelar apel siaga karhutla tingkat provinsi. Pemerintah berharap sinergi antara Satgas, MPA, dan masyarakat dapat memperkuat upaya pencegahan sehingga risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau dapat ditekan semaksimal mungkin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *