SEMARANG – Di balik bisingnya aktivitas ekonomi di kawasan industri Mangkang, tersembunyi sebuah fragmen sejarah yang kini seolah terhimpit oleh kemajuan zaman. Candi Tugu Semarang, atau yang lebih akrab disapa Watu Tugu oleh penduduk lokal, menyajikan pemandangan ironis yang menghentak kesadaran. Di kaki bukitnya, cerobong pabrik tak henti mengepulkan asap hitam ke langit, sementara deru truk kontainer di Jalan Raya Mangkang memuntahkan kebisingan industri yang konstan. Namun, hanya beberapa langkah mendaki jalan setapak yang rimbun, suasana berubah drastis menjadi senyap, menyisakan sebuah monumen batu andesit purba yang menatap pasrah ke arah Laut Jawa.
Situs ini bukan sekadar tumpukan batu, melainkan sebuah pusaka yang diklaim sebagai tapal batas dua kerajaan besar Nusantara, Majapahit dan Pajajaran. Sayangnya, kemegahan narasi masa lalu itu kini terasa kontras dengan kondisinya yang tampak seperti “orang asing” di tengah kepungan beton industri. Keberadaan situs ini tetap bernapas berkat dedikasi Sumarto, sang juru kunci setia yang telah menjaga warisan ini selama 16 tahun. Bagi pria paruh baya ini, Candi Tugu adalah identitas yang harus terus disuarakan meski sering kali luput dari peta wisata populer di Jawa Tengah.
Sumarto sering kali merasa getir saat melihat perilaku pengunjung yang datang. Banyak dari mereka hanya tertarik berswafoto di replika candi buatan tahun 1980-an yang memang secara estetika menyerupai Candi Gedong Songo. Padahal, esensi sejarah dan misteri yang sesungguhnya berada pada tugu batu tak berbentuk di sebelahnya. Tugu batu andesit purba itulah yang diyakini berasal dari era Mataram Kuno pada abad ke-8, jauh lebih tua dari kemegahan Borobudur. Menjaga keaslian narasi ini telah menjadi obsesi pribadi bagi Sumarto, terutama saat ia merujuk pada catatan peneliti purbakala Hindia Belanda, J. Knebel, yang menjejakkan kaki di sana pada tahun 1911.
Secara historis, situs ini merupakan titik temu peradaban yang sangat vital ratusan tahun silam. Wilayah Pajajaran membentang di sisi barat atau area Kaliwungu, sementara Majapahit menguasai sisi timur hingga ke wilayah Ungaran. Batu andesit di puncak bukit ini menjadi saksi bisu kesepakatan damai yang dihormati oleh kedua kerajaan tersebut. Namun, nilai luhur perdamaian itu kini harus berhadapan dengan realitas pahit pengelolaan cagar budaya di era modern. Statusnya saat ini berada dalam kondisi “hidup segan mati tak mau”, sebuah potret buram dari kurangnya perhatian pemangku kebijakan terhadap situs-situs bersejarah yang lokasinya terpencil atau terkepung industri.
Nasib Candi Tugu sempat berada di ujung tanduk saat Sumarto resmi pensiun pada tahun 2016. Tanpa adanya penunjukan juru kunci pengganti dan nihilnya anggaran pemeliharaan rutin, situs ini sempat terbengkalai hingga rumput liar setinggi lutut menutupi pagar pembatas. Alam seolah ingin mengambil kembali lahan tersebut karena ketidakpedulian manusia. Tak tega melihat sejarah tertutup ilalang, Sumarto akhirnya memutuskan untuk kembali turun tangan secara sukarela. Ia kemudian menginisiasi Forum Ngupokoro Candi Tugu, sebuah gerakan swadaya masyarakat desa setempat yang bergerak tanpa menunggu instruksi maupun kucuran dana dari pemerintah.
Anggota forum ini bekerja dengan tulus, mulai dari menyapu daun kering hingga mencabuti rumput liar di sela-sela batu purba. Mereka menjadi bahan bakar utama yang menjaga situs ini agar tetap “bernapas” di tengah kepungan pabrik. Sumarto mengakui bahwa bantuan dari tingkat kelurahan atau kecamatan hanya datang sesekali dan sifatnya sangat terbatas. Tanpa semangat gotong royong warga, situs ini dipastikan sudah berubah menjadi hutan belantara. Rasa bangga akan kepedulian warga bercampur aduk dengan rasa kecewa terhadap sistem yang ada, mencerminkan betapa beratnya menjaga warisan leluhur tanpa dukungan sistematis.
Kini, dari puncak bukit Semarang Barat, Candi Tugu tetap berdiri tegak menyaksikan perubahan zaman. Garis pantai Laut Jawa yang berkilauan di kejauhan menjadi saksi bisu bagaimana industri terus mendesak ruang gerak sejarah. Situs ini telah selamat melewati runtuhnya kerajaan-kerajaan besar dan masa kolonialisme yang panjang, namun kini ia menghadapi ancaman yang lebih mematikan, yakni ketidakpedulian zaman modern. Melalui Forum Ngupokoro, Sumarto hanya berharap agar kisah damai Majapahit dan Pajajaran tidak lenyap tertelan debu industri. Baginya, Candi Tugu harus tetap ada untuk mengingatkan setiap generasi bahwa di tanah ini, kedamaian dan peradaban besar pernah bertahta.


