SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi mengukir sejarah baru di dunia pendidikan tanah air. Jateng menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menerapkan Program Insersi Pendidikan Perkoperasian di seluruh jenjang sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA/SMK, hingga Sekolah Luar Biasa. Langkah inovatif ini mulai diberlakukan secara serentak pada tahun ajaran baru 2026.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa kebijakan ini tidak akan menambah beban siswa dengan mata pelajaran baru. Pemerintah hanya menyisipkan materi perkoperasian ke dalam kurikulum atau mata pelajaran yang sudah ada. Salah satu materi pokok yang akan diajarkan kepada sekitar 6,38 juta pelajar di Jateng adalah mengenai Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
“Kami tidak mengubah atau menambah pelajaran baru, melainkan menyelipkan materi koperasi yang sejalan dengan program pemerintah. Tujuannya agar anak didik paham sejak dini,” ujar Ahmad Luthfi setelah meluncurkan program tersebut di Gedung Grahadika Bhakti Praja, Semarang. Ia menambahkan bahwa modul pembelajaran telah siap, serta para kepala sekolah, pengawas, dan guru pengampu telah selesai menjalani pelatihan khusus.
Kurikulum Adaptif Menyesuaikan Tingkatan Sekolah
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah, Eddy S. Bramiyanto, menjelaskan bahwa kedalaman materi akan disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia siswa serta kejuruan sekolah masing-masing. Pada tingkat dasar, siswa baru diperkenalkan pada konsep fondasi awal, seperti mengenal struktur koperasi dan bentuk usaha sederhana.
Sementara itu, untuk jenjang pendidikan menengah dan atas, pembelajaran akan bergeser ke ranah praktikum yang aplikatif. Para siswa akan diajarkan langsung bagaimana menyusun laporan keuangan, melakukan simulasi proses jual beli, hingga memanfaatkan teknologi informasi untuk pengembangan ekosistem koperasi modern.
“Guru bisa menyampaikannya di awal atau akhir jam pelajaran, bahkan bisa dimasukkan ke dalam kegiatan kokurikuler di luar jam pelajaran inti,” kata Eddy.
Benteng Menghadapi Arus Ekonomi Kapitalistik
Langkah progresif Pemprov Jateng ini mendapat apresiasi tinggi dari Menteri Koperasi, Ferry Juliantono. Ia berharap terobosan Jateng sebagai bumi kelahiran koperasi pertama di Indonesia dapat menjadi proyek percontohan bagi provinsi-provinsi lain. Menurut Ferry, pemahaman koperasi sangat penting bagi generasi milenial, Gen Z, dan Gen Alfa sebagai alternatif penyedia lapangan kerja masa depan.
Melalui program ini, pemerintah ingin menanamkan kembali nilai gotong royong, kebersamaan, dan kekeluargaan. Ferry menegaskan bahwa pemahaman ini menjadi sangat krusial sebagai benteng moral agar generasi muda tidak terjebak dalam arus ekonomi liberal yang kapitalistik, individualistik, dan egois.
Dukungan Penuh dari Lintas Kementerian
Dukungan penuh juga mengalir dari sektor pendidikan keagamaan. Menteri Agama, Nasaruddin Umar, memastikan lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama wilayah Jawa Tengah siap mengadopsi program ini secara menyeluruh. Ia bahkan mengaitkan nilai koperasi dengan esensi spiritual, di mana prinsip kerja sama tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an, seperti pada Surah Al-Ma’un.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, menilai insersi ini adalah jawaban tepat atas tantangan pendidikan modern yang menuntut pembelajaran relevan dengan kehidupan nyata. Pendekatan Jawa Tengah dinilai cerdas karena memberikan pengalaman belajar yang otentik tanpa membebani siswa dengan mata pelajaran baru. Melalui program ini, satuan pendidikan diharapkan tidak hanya melahirkan lulusan yang cerdas secara akademik, melainkan juga generasi yang memiliki kecakapan hidup, jiwa kepemimpinan, serta semangat kewirausahaan sosial.





