Di kepala banyak mahasiswa, magang selalu dibayangkan sebagai jembatan antara kampus dan dunia kerja. Tempat di mana teori yang selama ini dipelajari diuji, relasi mulai dibangun, dan gambaran masa depan perlahan terbentuk. Ada ekspektasi bahwa di fase ini, mahasiswa tidak lagi sekadar “belajar”, tapi mulai benar-benar memahami bagaimana dunia profesional berjalan.
Saya juga datang dengan bayangan yang sama.
Saya Putra (21), bukan nama sebenarnya, mahasiswa semester enam Program Studi Ilmu Politik di salah satu kampus di Semarang. Di tahap ini, magang menjadi fase yang tidak bisa dihindari. Secara konsep, program ini terdengar ideal. Mahasiswa diberi kesempatan untuk terjun langsung ke dunia kerja selama minimal tiga bulan, bahkan direkognisi setara satu semester perkuliahan.
Harapannya sederhana: kami tidak hanya lulus dengan teori, tapi juga pengalaman di dunia kerja.
Namun, kenyataan yang saya temui di lapangan tidak sepenuhnya seperti itu.
Hari-hari di tempat magang justru lebih sering berjalan lambat. Datang pagi, duduk, membuka ponsel, lalu menunggu waktu pulang. Sesekali ada pekerjaan, tapi tidak konsisten dan sering kali tidak cukup untuk mengisi waktu seharian.
Selebihnya, banyak waktu yang terasa kosong.
Scroll TikTok, keliling gedung, keluar mencari makan, atau sekadar main ke tempat magang teman menjadi rutinitas yang berulang. Bukan karena malas, tapi memang tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan.
Dan dari obrolan dengan teman-teman lain yang juga sedang menjalani magang di berbagai tempat, cerita yang muncul tidak jauh berbeda.
Memang tidak semua. Tapi sebagian besar yang saya temui mengalami hal serupa.
Kami hadir, tapi kurang terlibat dalam membantu pekerjaan mereka.
Di titik itu, muncul dilema yang cukup janggal. Di satu sisi, sistem kampus tetap menuntut kami untuk mengisi laporan kegiatan harian sebagai syarat rekognisi mata kuliah. Di sisi lain, aktivitas yang bisa dicatat tidak selalu tersedia.
Akhirnya, sebagian mahasiswa memilih jalan yang praktis.
Mengarang kegiatan.
Bukan karena ingin memanipulasi, tapi karena memang tidak ada cukup aktivitas yang bisa dituliskan setiap hari. Bahkan, pernah ada salah satu staf di tempat kami magang yang memberi saran.
“Kalau nggak ada kegiatan, coba baca koran saja, lalu tulis analisis beritanya di laporan magang.”
Saran yang, di satu sisi terasa membantu, tapi di sisi lain juga menunjukkan sesuatu: bahwa aktivitas utama magang bisa saja tidak benar-benar ada.
Padahal, kalau dilihat dari tujuannya, magang seharusnya menjadi ruang belajar yang hidup. Tempat di mana mahasiswa tidak hanya hadir, tapi juga dilibatkan—diberi kesempatan untuk memahami alur kerja, melihat proses pengambilan keputusan, atau sekadar ikut dalam dinamika keseharian sebuah instansi.
Saya pribadi justru lebih memilih dilibatkan, meskipun tugasnya sederhana. Selama ada yang dikerjakan, waktu terasa lebih bermakna.
Karena sejujurnya, jenuh itu bukan datang dari pekerjaan yang berat, tapi dari tidak adanya pekerjaan sama sekali.
Memang, ada jenis pekerjaan yang identic ke anak magang: fotokopi, mencetak dokumen, mengantar surat, atau menata arsip. Sederhana, bahkan sering dianggap remeh.
Tapi dalam kondisi tertentu, itu terasa jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.
Hanya saja, di titik lain, muncul pertanyaan yang berat.
Kalau yang dikerjakan hanya itu-itu saja, lalu di mana letak relevansinya dengan ilmu yang selama ini dipelajari?
Pertanyaan itu semakin terasa ketika saya berkunjung ke tempat magang teman. Dalam sebuah percakapan santai, seorang pegawai di sana sempat berkata:
“Ya gini lah kalau magang di sini. Saya malah rekomendasiin magang di tempat magang X lebih dapat ilmunya. Kalau di sini ya gini-gini saja, terus apa yang kamu dapat?”
Saya sempat terdiam, lalu menjawab dengan versi yang paling aman.
“Mungkin lebih ke pengalaman yang belum bisa didapat di kelas, Pak… kayak ikut paripurna.”
Jawaban yang, kalau dipikir-pikir, lebih terdengar seperti usaha untuk tetap melihat sisi positif dari situasi yang sebenarnya tidak ideal.
Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa pengalaman magang tidak bisa disamaratakan. Ada teman-teman yang benar-benar dilibatkan dalam pekerjaan, diberi tanggung jawab, bahkan mendapatkan kesempatan belajar yang lebih dalam.
Ada juga yang mendapat uang saku, memiliki mentor yang membimbing, hingga akhirnya mendapatkan peluang kerja setelah lulus.
Dari situ saya mulai melihat satu hal yang cukup krusial: memilih tempat magang bukan perkara sepele. Tempat, magang bisa menjadi batu loncatan yang sangat berarti. Membuka relasi, memberi pengalaman nyata, bahkan memperjelas arah karier ke depan.
Tapi kalau tidak, tiga sampai empat bulan bisa berlalu begitu saja tanpa arah, tanpa makna yang jelas.
Di titik ini, saya mulai bertanya lebih jauh, bukan hanya soal pengalaman pribadi, tapi juga soal bagaimana program ini dijalankan. Apakah semua tempat magang benar-benar siap menerima mahasiswa sebagai “pembelajar”? Atau justru hanya menerima karena formalitas?
Karena pada akhirnya, mahasiswa berada di posisi yang cukup sulit. Harus memenuhi tuntutan sistem kampus, tapi juga menghadapi realitas lapangan yang tidak selalu mendukung.
Lebih jauh lagi, ada hal yang diam-diam terasa hilang: rasa semangat akan ingin tahu apa pekerjaan yang mereka lakukan.
Ketika terlalu lama berada dalam situasi yang pasif, pelan-pelan semangat untuk belajar itu bisa memudar. Yang awalnya datang dengan rasa penasaran, lama-lama berubah menjadi sekadar menjalani kewajiban.
Padahal, di fase ini, seharusnya menjadi momen penting untuk eksplorasi.
Ironisnya, durasi magang yang cukup panjang tiga hingga empat bulan dan tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pengalaman.
Namun di tengah itu semua, tetap ada hal-hal kecil yang bisa dipetik. Melihat langsung suasana kerja, memahami ritme sebuah instansi, atau sekadar berinteraksi dengan orang-orang di dalamnya—itu tetap menjadi pengalaman yang tidak saya dapatkan di ruang kelas.
Hanya saja, rasanya masih belum cukup.
Masih ada ruang yang seharusnya bisa diisi lebih banyak—lebih dalam, lebih relevan, dan lebih bermakna.
Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Bukan juga untuk menggeneralisasi semua tempat magang.
Ini hanya catatan kecil tentang ekspektasi yang tidak sepenuhnya bertemu dengan realitas, tentang waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan lebih baik, dan tentang kegelisahan yang mungkin juga dirasakan banyak mahasiswa lain.
Sekaligus pengingat sederhana, terutama bagi mahasiswa yang akan menjalani fase yang sama: jangan asal memilih tempat magang. Cari tahu, tanyakan, dan pastikan apa yang akan dikerjakan di sana.
Karena di situlah letak pembeda antara pengalaman yang benar-benar berpengaruh, dan pengalaman yang hanya sekadar dilewati.
Sebab pada akhirnya, magang bukan hanya soal hadir selama tiga bulan, mengisi laporan, lalu selesai.
Lebih dari itu, magang seharusnya menjadi ruang belajar yang nyata.
Dan ketika ruang itu justru terasa kosong, pertanyaannya menjadi sederhana
kalau bukan belajar, lalu sebenarnya kami sedang apa?
