Sekilas, Gramedia Jalma Pandanaran terlihat seperti tempat yang sama sekali baru. Interiornya lebih modern, ruangnya lebih terbuka, ada area kreatif, tempat berdiskusi, hingga ruang yang membuat toko buku terasa seperti ruang nongkrong anak muda. Namun, ada satu hal yang mudah terlupakan: sebelum bernama Jalma, tempat di Jalan Pandanaran No. 122 ini telah lama dikenal masyarakat Semarang sebagai Gramedia Pandanaran. Bahkan, sejumlah sumber menyebutnya sebagai cabang Gramedia pertama di Kota Semarang.
Pada Juli 2026, Gramedia secara resmi memperkenalkan Gramedia Jalma Pandanaran sebagai rumah kedua konsep Jalma setelah Blok M. Konsepnya bukan sekadar toko buku, melainkan ruang untuk membaca, menulis, bertemu, berdiskusi, dan membangun komunitas.
Di sinilah menariknya. Jalma sebenarnya bukan sekadar wajah baru sebuah toko buku. Ia seperti bab baru dari perjalanan budaya baca Semarang.
Gramedia sendiri telah berdiri sejak 1970 dan berkembang menjadi salah satu jaringan ritel buku terbesar di Indonesia. Di Semarang, Gramedia Pandanaran menjadi bagian dari perjalanan panjang itu. Artinya, generasi yang dahulu datang mencari buku pelajaran, novel, majalah, alat tulis, atau sekadar melihat-lihat rak buku, kini bisa kembali ke tempat yang sama dan menemukan pengalaman yang benar-benar berbeda.
Perubahannya bukan hanya soal interior.
Dulu, orang datang ke toko buku untuk membeli buku. Sekarang, orang bisa datang untuk mengalami buku.
Itulah perubahan paling menarik dari Jalma. Gramedia menjelaskan konsep ini sebagai upaya menjadikan toko buku sebagai ruang publik yang hidup—tempat membaca, berdiskusi, mencipta, dan berjejaring. Nama “Jalma” sendiri berarti manusia dan digunakan untuk menegaskan gagasan tentang manusia serta perjumpaan sebagai pusat ruang tersebut.
Dan Semarang tampaknya memang membutuhkan ruang semacam ini.
Di tengah kebiasaan generasi muda yang semakin lekat dengan layar, toko buku menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Orang bisa membeli buku melalui marketplace, membaca artikel melalui ponsel, atau mencari informasi hanya dengan beberapa ketukan. Kalau toko buku hanya menawarkan rak dan transaksi, apa alasan seseorang harus datang langsung?
Jalma mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan cara yang berbeda: mengubah toko buku menjadi tempat yang layak didatangi meskipun seseorang belum tahu buku apa yang ingin dibeli.
Buktinya mulai terlihat dari aktivitas yang digelar di sana. Gramedia Jalma Pandanaran menjadi lokasi berbagai diskusi buku, kegiatan membaca, hingga Pesta Literasi Indonesia 2026. Pada September 2026, tempat ini bahkan menjadi salah satu titik pembuka Pesta Literasi Indonesia dengan tema #MembacaRepublik.
Ini membuat bangunan tersebut memiliki cerita yang lebih panjang daripada sekadar “sebelum dan sesudah renovasi”. Ia memperlihatkan bagaimana cara masyarakat berhubungan dengan buku ikut berubah.
Dari toko buku sebagai tempat transaksi, menjadi ruang bertemu.
Dari mencari judul tertentu, menjadi menemukan gagasan yang tidak sengaja dicari.
Dari membaca sendirian, menjadi membaca lalu berdiskusi.
Dan mungkin, di situlah makna sejarah Gramedia Pandanaran hari ini.
Kita tidak perlu memaksakan cerita bahwa gedung ini adalah satu-satunya saksi “kejayaan percetakan Jawa Tengah”. Justru fakta yang lebih sederhana terasa lebih kuat: selama bertahun-tahun, tempat ini menjadi salah satu titik penting masyarakat Semarang dalam mengakses buku dan pengetahuan, lalu kini ia berusaha menghidupkan kembali kebiasaan tersebut dengan bahasa generasi baru.
Maka ketika melewati Gramedia Jalma Pandanaran, jangan hanya melihat gedung modernnya.
Lihat pula lapisan waktunya.
Di tempat yang sama, ada Semarang yang dulu mencari buku di rak-rak Gramedia, dan ada Semarang hari ini yang datang untuk membaca, berdiskusi, bekerja, berkarya, serta bertemu.
Sebab mungkin, yang sebenarnya sedang direnovasi bukan hanya toko bukunya.
Yang sedang dicoba untuk dihidupkan kembali adalah kebiasaan sebuah kota untuk bertemu dengan gagasan.




